Pengaruh Lapisan Tanah terhadap Mata Pencaharian dan Pemukiman di Jakenan, Pati
Oleh: Muqtada Arshadad
Karakteristik Tanah dan Implikasinya
Tanah di Jakenan didominasi oleh lapisan B (subsoil) dan C (regolith), tanpa lapisan organik (O) dan topsoil (A) yang signifikan. Tanah berwarna kuning kecoklatan ini padat, kurang subur, dan cepat jenuh saat hujan. Kondisi ini memengaruhi jenis budidaya yang memungkinkan.
Budidaya dan Tantangan
Petani mengandalkan padi selama musim hujan (MT1 dan MT2) dan beralih ke kacang atau tembakau saat kemarau. Akan tetapi, luas panen padi sawah di Kecamatan Juwana juga mengalami penurunan. Kerentanan terhadap banjir saat musim hujan dan kelangkaan air saat kemarau menjadi tantangan serius. Banjir dapat merendam padi, menyebabkan gagal panen akibat serangan hama wereng.
Pola Pemukiman dan Aksesibilitas
Pola pemukiman di Jakenan dipengaruhi oleh akses jalan, transportasi, ikatan keluarga, dan ketersediaan sawah. Pemukiman terkonsentrasi di sekitar desa Tambahmulyo, Karangjati, dan Sidomulyo. Tambahmulyo, dengan wilayah yang luas dan banyak sawah, menunjukkan perkembangan pesat dan potensi usaha baru. Harga tanah di Tambahmulyo meningkat signifikan dalam tiga tahun terakhir, mencapai Rp 1,6 juta per meter.
Perkembangan Sosial dan Ekonomi
Pendidikan formal menjadi fokus utama, dengan banyak anak muda bercita-cita merantau ke luar negeri. Setelah sukses, mereka berinvestasi di kampung halaman dengan membuka usaha peternakan atau alat berat. Kegiatan keagamaan cenderung longgar, dan penggunaan sepeda motor sebagai alat transportasi utama sangat umum. Gaya hidup sederhana di rumah kontras dengan kebiasaan makan di luar yang lebih mewah. Kebutuhan sehari-hari dipenuhi dari pasar lokal seperti Pasar Glonggong, Pasar Batur, dan Pasar Jakenan. Sektor industri dapat menyerap banyak tenaga kerja dan menjadi salah satu mata pencaharian di Pati.
Mitigasi Bencana
Beberapa daerah seperti Glonggong dan Tondomulyo rentan terhadap banjir akibat luapan Sungai Silugonggo dan Waduk Wilalung. Banjir bandang dari Pucakwangi juga dapat mencapai Glonggong. Sempadan mata air juga perlu diperhatikan sebagai kawasan yang memberikan perlindungan terhadap air tanah. Sistem drainase yang buruk dan muka air tanah yang tinggi dapat memperparah kondisi banjir.
Alih fungsi lahan hutan menjadi lahan pertanian juga menjadi permasalahan di Pati. Konversi lahan hutan ke lahan pertanian mengakibatkan penurunan kepadatan populasi cacing tanah.
Dengan pemahaman mendalam tentang karakteristik tanah dan tantangan yang dihadapi, masyarakat Jakenan terus beradaptasi dan mencari solusi untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Investasi di bidang pertanian, infrastruktur, dan mitigasi bencana menjadi kunci untuk masa depan yang lebih baik. Pemerintah dapat mengembangkan sub sektor pertanian dan perikanan sebagai sub sektor potensial di Kabupaten Pati.